“Dasyatnya Sumur Tua BMW”

Guys...apa kabar? Semoga Tuhan selalu memberi kenikmatan kepada kita semua. Tema kali ini tentang sumur tua BMW. Mungkin banyak yang belum tahu dengan sumur BMW. Sumur itu sudah berumur puluhan tahun, seumuran dengan SMPK. Kalau alumni BMW pasti sudah tahu, mereka biasa menyebut dengan nama Sumur BMW (red. BMW = Budi Murni Weleri). Sumur ini diyakini sangat luar biasa. Orang yang meminum air dari sumur ini akan hilang hausnya dan barang siapa yang mencuci muka dengan air ini akan menjadi sumringah (red. ora ngantukan), bersinar dan berseri. Ini pernah dibuktikan oleh saya sendiri... waktu itu sedang sinkronisasi persiapan Simulasi UNBK, dimana selama 26 jam sinkron tidak berhasil. Di temani Mas Greg Ardhiputra dan Bpk Johanes Brian Martana kami terus berjuang pantang menyerah mencari solusi. Badan terasa pegal, mata sayu karena kurang tidur. Teringat ada sumur BMW, hatiku mak greg...dan kemudian tanpa basa-basi mencoba raup....dan hore mukaku berseri lagi.... Penasaran, Mas Greg Ardhiputra pun mencobanya, dan terbukti. Cerita-cerita dengan yang lain ternyata anak-anak juga sering raup dengan air itu rupanya. Mungkin ini salah satu hal yang membuat warga sekolah dan alumni selalu kelihatan sumringah, berseri, cantik-cantik dan ganteng. Ndak percaya? Silahkan coba...
Apakah itu saja yang menjadikan Sumur BMW Dasyat? Bukan guys...
Sumur Tua BMW merupakan sumber air yang bersih, sehat dan siapapun dapat memanfaatkanya. Air sumur ini sering dimanfaatkan oleh para penjual kuliner yang ada di depan sekolah. Pihak sekolah mempersilahkan mereka untuk mengambil air tersebut secara gratis. Sekolah berpandangan bahwa dalam hidup bermasyarakat, sudah selayaknya kita harus mau berbagi kasih. Walaupun hanya air, akan tetapi berbagi kasih itu merupakan sudah dapat menjadi contoh teladan yang baik yang diberikan kepada peserta didik. SMPK Budi Murni memperjuangkan nilai “kasih” dan salah satu contoh adalah mempersilahkan para penjual mengambil air Sumur BMW, disamping kegiatan sosial yang lain.
Kita sering berbicara kasih dan menempelkan atribut kasih di tempat-tempat tertentu, tetapi pada kenyataannya... kasih itu hanyalah ucapan dan slogan saja. Padahal Kasih itu sama artinya membuka diri terhadap perhatian dan kepedulian yang mendalam, membuka ketertutupan nurani dan mencelikkan mata untuk melihat, merasakan, berbagi dan mengulurkan tangan untuk menolong. Tuhan ingin kita menjadi pengharapan dan saluran berkat bagi mereka yang membutuhkan.